Renungan

HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Sapaan Pastor Paroki St. Maria Bunda Perantara, Cideng!
An
ak-anak, kaum remaja, pemuda-pemudi, bapa-ibu, saudara-saudari, umat paroki St. Maria Bunda Perantara Cideng, yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS

MISTERI ALLAH TRITUNGGAL:
SUMBER, TUJUAN DAN MODEL
(Bacaan: Kel. 34:4b-6,8-9; 2Kor. 13:11-13; Yoh. 3:16-18)

Sejak dipermandikan dengan rumus “Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus”, sejak itu pula kita terus menandai diri kita dengan tanda salib rumusan Tritunggal itu. Sudah tak terhitung berapa banyak kali kita membuat tanda salib: Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus entah untuk memulai hari dan menutup hari atau memulai suatu kegiatan dan mengakhirinya. Begitu seringnya praktek itu kita lakukan sehingga seringkali bergulir secara spontan tanpa kita maknai sebagai penegasan akan kuasa Allah Tritungal dalam hari-hari hidup kita dan apapun yang kita lakukan. Membuat tanda salib dengan menyebut nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus adalah kebiasaan sederhana untuk menegaskan keyakinan iman akan Allah Tritunggal.

Kebiasaan membuat tanda salib dengan rumusan Allah Tritunggal meskipun baik dan kelihatan religius, tapi dapat merosot menjadi kebiasaan tanpa makna jika tidak dilakukan sebagai ekspresi iman akan Allah Tritunggal. Semua orang dapat saja meniru cara membuat tanda salib, tapi itu tidak berarti semua orang percaya akan Allah Tritunggal. Seperti konon suatu waktu pernah berlangsung pertandingan sepakbola antar anak-anak di sebuah desa. Para pemain kedua kesebelasan itu semuanya non-Kristen. Anehnya setiap saat ada pemain yang berhasil memasukan bola ke gawang, si pemain selalu membuat tanda salib. Apakah mereka juga percaya kepada Allah Tritunggal? Pasti tidak. Setelah ditelusuri, ternyata mereka hanya meniru selebrasi para pemain bola professional (yang notabene Katolik) yang biasanya membuat tanda salib setelah mencetak gol.

Setiap kali membuat tanda salib, kita perlu selalu sadar bahwa kita sementara mengungkapkan dan menegaskan keyakinan iman kita akan Allah Tritunggal MahaKudus: Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.  Keyakinan iman akan Allah Tritunggal Mahakudus adalah cirikhas iman Kristen. Keyakinan iman akan Allah Tritunggal ini membedakan kita dengan para leluhur kita dalam iman: umat Yahudi dan juga membedakan kita dari anak-anak Abraham yang lain: umat Islam.  Keyakinan iman yang menjadi ajaran inti Kristiani adalah bahwa Allah seperti tersingkap di dalam Yesus Kristus adalah Allah yang menyatakan diri-Nya dalam tiga Pribadi: Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus.

Bagaimana bacaan-bacaan Kitab Suci pada Hari Raya Tritunggal MahaKudus ini menyingkapkan tentang misteri Allah Tritunggal? Bacaan pertama, Kel. 34:4B-6, 8-9, menggambarkan Allah lewat di hadapan Musa dan menyatakan nama-Nya, menyatakan bahwa Ia penyayang, pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, dan mengampuni orang yang bersalah. Musa menanggapi dengan sujud dan menyembah Tuhan. Bacaan kedua, 2 Kor. 13:11-13, adalah penutup surat Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus. Dalam bagian penutup itu Paulus mendorong umat di Korintus untuk menuju pemulihan, persatuan, dan perdamaian. Paulus memohonkan rahmat Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus bagi umat itu saat dia mengucapkan selamat tinggal.

Injil, Yoh. 3:16-18, mengetengahkan perbincangan Yesus dengan Nikodemus. Nikodemus adalah seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi yang datang tengah malam menemui Yesus untuk berdiskusi. Dalam perikop ini Yesus berbicara kepada Nikodemus tentang kasih dan keselamatan Allah. Yesus mengatakan kepada Nikodemus bahwa Allah sangat mencintai dunia sehingga Ia mengutus Putra tunggal-Nya, supaya siapa pun yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa tetapi memiliki hidup yang kekal. Mereka yang tidak percaya kepada-Nya akan menghadapi konsekuensi. Itu terjadi bukan karena dihukum Allah tetapi sebagai konsekuensi pilihan mereka yang mengakibatkan mereka kehilangan kesempatan untuk mengalami kasih dan keselamatan Allah. Sang Putera memang tidak datang untuk menghukum tetapi untuk menebus dan menyelamatkan.

Jika kita cermati, bacaan-bacaan Kitab Suci di atas memang tidak menerangkan tentang Allah Tritunggal secara langsung tetapi hanya menyebut atau menegaskan tentang Allah Tritunggal itu. Lalu bagaimana kita dapat mengerti tentang Allah Tritunggal? Pertama-tama kita perlu ingat bahwa Allah Tritunggal itu adalah suatu misteri dan karena itu ajaran iman yang kita yakini itu adalah tentang misteri Allah Tritunggal. Sebagai misteri, kita memang tidak dapat memahami secara tuntas dan jelas Allah Tritunggal Mahakudus, yaitu satu Allah dengan tiga Pribadi: Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus. Allah Tritunggal Mahakudus itu satu. “Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi” (Katekismus Gereja Katolik/KGK no. 253).

Sebagai catatan, apa yang dimaksud Gereja dengan misteri berbeda dengan misteri dalam arti populer seperti yang digunakan para penulis untuk mengungkap misalnya misteri kematian atau kejahatan tertentu. Misteri dalam arti populer ini pada akhirnya memiliki pemecahannya, dan para pembaca cerdas yang mengikuti clue tertentu biasanya dapat memecahkannya. Tetapi ketika Gereja menyebut suatu pokok iman sebagai misteri, Gereja maksudkan bahwa tidak ada manusia, betapapun pandainya, dapat memahaminya. Hal itu melampaui kapasitas intelek manusia. Kita tidak dapat lagi memahaminya sama seperti seekor burung merpati tidak dapat memahami tujuan dari aliran listrik atau seekor ayam tidak dapat memahami arti dari cinta manusia. Ajaran Tritunggal Mahakudus adalah misteri yang melampaui pemahaman manusia.

Kita menerima misteri Allah Tritunggal sebagai kebenaran dasar iman Kristiani kita, bukan karena kita telah mampu menyingkapkan misteri itu dengan kemampuan nalar kita. Kita percaya akan misteri Allah Tritunggal karena Yesus sendiri menyingkapkannya bagi kita. Tuhan Yesus telah menyingkapkan kepada murid-muridnya misteri agung iman kita: Allah Tritunggal Mahakudus dan persatuan kekal dan tak terpisahkan dari Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Tugas perutusan Yesus adalah untuk menyingkapkan kemuliaan Allah kepada kita, Tritunggal Mahakudus dari pribadi-pribadi Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Dan Yesus juga datang untuk melaksanakan tugas perutusan mempersatukan kita dengan Allah dalam komunitas cinta, Bapa, Putera, dan Roh Kudus.

Iman bukanlah sesuatu yang statis, tergenggam sedemikian seketika kita menerimanya. Iman itu dinamis, bertumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Karena iman bukanlah sesuatu yang statis tetapi dinamis dan terus bertumbuh, bagaimanakah kita dapat terus bertumbuh dalam pemahaman dan pengalaman akan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus? Roh Kuduslah yang menyingkapkan Allah Bapa dan Putera kepada kita dan memberikan kepada kita karunia iman untuk mengenal dan memahami kebenaran sabda Allah. Melalui permandian, kita menerima karunia Roh Kudus. Tuhan membaharui karunia Roh itu dalam diri kita masing-masing manakala kita membuka hati dengan iman penuh pengharapan dan berserah pada karya penyelamatan-Nya dalam hidup kita.

Meskipun kita tidak dapat memahami dan mengerti misteri Allah Tritunggal secara tuntas dan mendetail, tidak berarti bahwa tidak ada pemahaman dan pengertian apapun tentang Allah Tritunggal. Seperti telah dijelaskan di atas, kita tetap dapat memahami misteri Allah Tritunggal itu (meskipun secara terbatas) sejauh disingkapkan oleh Yesus, melalui hidup, ajaran dan karya-Nya. Roh Kudus terus mengarahkan kita untuk memahami hidup, ajaran, dan karya keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus itu dengan selalu “menuntun kita kepada segala kebenaran”. Dengan demikian iman akan Allah Tritunggal itu kita jadikan sebagai sumber, tujuan dan model hidup keluarga manusia.

Apakah artinya menjadikan Allah Tritunggal sumber, tujuan dan model? Segala sesuatu dalam kekristenan bergantung pada misteri ini, yang dapat mulai kita pahami dalam hidup ini karena Allah telah memilih untuk mengungkapkannya kepada kita. Allah Tritunggal adalah kesatuan yang ada antara Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Meskipun berbeda Pribadi, Bapa, Putera, dan Roh Kudus tetapi bersatu dalam sifat dan tujuan. Kesatuan ini bukanlah sesuatu yang dipaksakan atau dibuat-buat, melainkan mengalir secara alami dari kasih yang sempurna yang ada dalam ke-Allah-an. Sebagaimana Bapa, Putera, dan Roh Kudus dipersatukan dalam cinta, kita semua dipanggil untuk saling mengasihi dan hidup serta bekerja sama dalam kesatuan.

Misteri Allah Tritunggal juga mendorong kita sebagai pengikut Yesus untuk menanti dan menyambut hidup surgawi dengan lebih bersemangat dibanding dengan penganut agama manapun. Surga bukanlah suatu kenikmatan tanpa akhir seperti sering dibayangkan. Surga yang kita songsong adalah surga yang disingkapkan dan ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Surga yang demikian adalah sukacita abadi yang tak terlukiskan karena melalui kasih karunia Allah, kita dijadikan anggota keluarga Allah. Dengan demikian kita bukan hanya menjadi tamu atau hamba di dalam kerajaan surga itu. Karena kemurahan cinta Allah kita telah diangkat menjadi anggota penuh kerajaan Allah itu. Semoga Hari Raya Tritunggal Mahakudus mendorong kita untuk tetap setia menjadikan Allah Tritunggal Mahakudus sebagai sumber, tujuan dan model kehidupan kita. Untuk itu kita perlu berkomitmen untuk tidak membiarkan dosa, egoisme, dan keraguan merintangi panggilan untuk hidup sebagai anak-anak kerajaan Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus.
SELAMAT HARI MINGGU TRITUNGGAL MAHAKUDUS! RAHMAT TUHAN KITA YESUS KRISTUS, CINTA KASIH ALLAH DAN PERSEKUTUAN ROH KUDUS MENJAGA, MELINDUNGI, DAN MEMBERKATI KITA SEKALIAN!AMIN
Hari Minggu Tritunggal Mahakudus:
Tahun A 2023

Jln Cipunegara 1 Jakarta Pusat,
P. Jovi Rahail MSC
Pastor Paroki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *